PERKEMBANGAN SEL SURYA
Generasi Pertama
Teknologi pertama yang berhasil
dikembangkan oleh para peneliti adalah teknologi yang menggunakan bahan silikon
kristal tunggal. Teknologi ini dalam mampu menghasilkan sel surya dengan
efisiensi yang sangat tinggi. Masalah terbesar yang dihadapi dalam pengembangan
silikon kristal tunggal ini adalah bahwa untuk dapat diproduksi secara
komersial sel surya ini harganya sangat mahal sehingga membuat solar sel panel
yang dihasilkan menjadi tidak efisien sebagai sumber energi alternatif.
Teknologi yang kedua adalah dengan
menggunakan wafer silikon poli kristal. Saat ini, hampir sebagian besar panel
solar sel yang beredar di pasar komersial berasal dari screen printing jenis
silikon poli kristal ini. Wafer silikon poli kristal dibuat dengan teknologi
casting berupa balok silikon dan dipotong-potong dengan metode wire-sawing
menjadi kepingan (wafer), denagn ketebalan sekitar 250–350 micrometer. Dengan
teknologi ini bisa diperoleh sel surya lebih murah meskipun tingkat
efisiensinya lebih rendah jika dibandingkan dengan silikon kristal tunggal.
Generasi kedua
Generasi kedua
adalah sel surya yang dibuat dengan teknologi lapisan tipis (thin film).
Teknologi pembuatan sel surya dengan lapisan tipis ini dimaksudkan untuk
mengurangi biaya pembuatan solar sel mengingat teknologi ini hanya menggunakan
kurang dari 1% dari bahan baku silikon jika dibandingkan dengan bahan baku
untuk tipe silikon wafer.
Metode yang paling
sering dipakai dalam pembuatan silikon jenis lapisan tipis ini adalah dengan
Plasma-enhanced chemical vapor deposition (PECVD) dari gas silane dan hidrogen.
Lapisan yang dibuat dengan metode ini menghasilkan silikon yang tidak memiliki
arah orientasi kristal atau yang dikenal sebagai amorphous silikon (non
kristal).
Selain menggunakan material dari
silikon, sel surya lapisan tipis juga dibuat dari bahan semikonduktor lainnya
yang memiliki efisiensi solar sel tinggi seperti Cadmium Telluride (Cd Te) dan
Copper Indium Gallium Selenide (CIGS).Efisiensi tertinggi saat ini yang bisa
dihasilkan oleh jenis solar sel lapisan tipis ini adalah sebesar 19,5% yang
berasal dari solar sel CIGS.
Keunggulan lainnya dengan menggunakan tipe lapisan tipis adalah semikonduktor sebagai lapisan solar sel bisa dideposisi pada substrat yang lentur sehingga menghasilkan divais solar sel yang fleksibel. Persoalannya adalah material ini belum dapat diterima dengan baik karena mengandung unsur cadmium. Bila rumah yang atapnya dipasang sel surya CdTe terbakar, unsur cadmium ini akan menimbulkan polusi yang membahayakan.
Generasi ketiga
Penelitian
agar harga solar sel menjadi lebih murah selanjutnya memunculkan teknologi
generasi ketiga yaitu teknologi pembuatan sel surya dari bahan polimer atau
disebut juga dengan sel surya organik dan sel surya foto elektrokimia. Sel
Surya organic dibuat dari bahan semikonduktor organik seperti polyphenylene
vinylene dan fullerene.
Pada solar sel generasi ketiga ini photon yang datang tidak harus menghasilkan pasangan muatan seperti halnya pada teknologi sebelumnya melainkan membangkitkan exciton. Exciton inilah yang kemudian berdifusi pada dua permukaan bahan konduktor (yang biasanya di rekatkan dengan organik semikonduktor berada di antara dua keping konduktor) untuk menghasilkan pasangan muatan dan akhirnya menghasilkan efek arus foto (photocurrent). Sedangkan sel surya photokimia merupakan jenis sel surya exciton yang terdiri dari sebuah lapisan partikel nano (biasanya titanium dioksida) yang di endapkan dalam sebuah perendam (dye).
Teknologi ini pertama kali diperkenalkan oleh Profesor Graetzel pada tahun 1991 sehingga jenis solar sel ini sering juga disebut dengan Graetzel sel atau dye-sensitized solar cells (DSSC).
Graetzel sel ini dilengkapi dengan pasangan redok yang diletakkan dalam sebuah elektrolit (bisa berupa padat atau cairan). Komposisi penyusun solar sel seperti ini memungkinkan bahan baku pembuat Graetzel sel lebih fleksibel dan bisa dibuat dengan metode yang sangat sederhana seperti screen printing. Meskipun solar sel generasi ketiga ini masih memiliki masalah besar dalam hal efisiensi dan usia aktif sel yang masih terlalu singkat, solar sel jenis ini akan mampu memberi pengaruh besar dalam sepuluh tahun ke depan mengingat harga dan proses pembuatannya yang akan sangat murah.
PERKEMBANGAN EFISIENSI
STRUKTUR SEL SURYA
1. Substrat/Metal backing
Substrat
adalah material yang menopang seluruh komponen sel surya. Material substrat
juga harus mempunyai konduktifitas listrik yang baik karena juga berfungsi
sebagai kontak terminal positif sel surya, sehinga umumnya digunakan material
metal atau logam seperti aluminium atau molybdenum. Untuk sel surya
dye-sensitized (DSSC) dan sel surya organik, substrat juga berfungsi sebagai
tempat masuknya cahaya sehingga material yang digunakan yaitu material yang
konduktif tapi juga transparan seperti indium tin oxide (ITO) dan flourine
doped tin oxide (FTO).
2. Material Semikonduktor
Material semikonduktor merupakan bagian inti dari sel surya yang biasanya mempunyai tebal sampai beberapa ratus mikrometer untuk sel surya generasi pertama (silikon), dan 1-3 mikrometer untuk sel surya lapisan tipis. Material semikonduktor inilah yang berfungsi menyerap cahaya dari sinar matahari. Untuk kasus gambar diatas, semikonduktor yang digunakan adalah material silikon, yang umum diaplikasikan di industri elektronik. Sedangkan untuk sel surya lapisan tipis, material semikonduktor yang umum digunakan dan telah masuk pasaran yaitu contohnya material Cu(In,Ga)(S,Se)2 (CIGS), CdTe (kadmium telluride), dan amorphous silikon, disamping material-material semikonduktor potensial lain yang dalam sedang dalam penelitian intensif seperti Cu2ZnSn(S,Se)4 (CZTS) dan Cu2O (copper oxide).
Bagian semikonduktor tersebut terdiri dari junction atau gabungan dari dua material semikonduktor yaitu semikonduktor tipe-p (material-material yang disebutkan diatas) dan tipe-n (silikon tipe-n, CdS,dll) yang membentuk p-n junction yang menjadi kunci dari prinsip kerja sel surya.
3.
Kontak metal / contact grid
Selain substrat sebagai kontak
positif, diatas sebagian material semikonduktor biasanya dilapiskan material
metal atau material konduktif transparan sebagai kontak negatif.
4. Lapisan
Antireflektif
Refleksi cahaya harus diminimalisir
agar mengoptimalkan cahaya yang terserap oleh semikonduktor. Oleh karena itu
biasanya sel surya dilapisi oleh lapisan anti-refleksi. Material anti-refleksi
ini adalah lapisan tipis material dengan besar indeks refraktif optik antara
semikonduktor dan udara yang menyebabkan cahaya dibelokkan ke arah semikonduktor sehingga meminimumkan
cahaya yang dipantulkan kembali.
5. Enkapsulasi / cover
glass
Bagian ini berfungsi sebagai
enkapsulasi untuk melindungi modul surya dari hujan atau kotoran.






Komentar
Posting Komentar