Elektrokoagulasi
Elektrokoagulasi merupakan
metode pengolahan air secara elektrokimia dimana pada anoda terjadi pelepasan
koagulan aktif berupa ion logam (biasanya alumunium atau besi) ke dalam
larutan, sedangkan pada katoda terjadi reaksi elektrolisis berupa pelepasan gas
hidrogen (Holt dkk., 2004). Menurut Mollah, (2004), elektrokoagulasi adalah
proses kompleks yang melibatkan fenomena kimia dan fisika dengan menggunakan
elektroda untuk menghasilkan ion yang digunakan untuk mengolah air limbah.
Berikut ini adalah gambar yang dapat menunjukkan interaksi atau mekanisme yang
terjadi di dalam reaktor elektrokoagulasi.
Pada proses elektrokimia
akan terjadi pelepasan Al3+
dari
plat elektroda (anoda) sehingga
membentuk flok Al(OH)3 yang mampu mengikat kontaminan dan partikel-partikel dalam limbah. Apabila
dalam suatu elektrolit ditempatkan dua elektroda
dan dialiri arus listrik searah, maka ion positif (kation) bergerak ke katoda dan menerima elektron yang
direduksi dan ion negatif (anion) bergerak ke anoda
dan menyerahkan elektron yang dioksidasi.
Metode elektrokoagulasi
memiliki beberapa keunggulan diantaranya yaitu
merupakan metode yang sederhana, efisien, baik digunakan untuk menghilangkan senyawa organik, tanpa
penambahan zat kimia sehingga mengurangi
pembentukan residu (sluge), dan efektif untuk menghilangkan padatan tersuspensi (Reddhitota dkk.,
2007)
Prinsip Elektrokoagulasi
Prinsip dasar dari
elektrokoagulasi adalah reaksi reduksi dan oksidasi(redoks). Dalam suatu sel elektrokoagulasi peristiwa oksidasi
terjadi di anoda, sedangkan
reduksi terjadi di katoda. Dalam reaksi elektrokoagulasi selain elektroda juga melibatkan air yang
diolah yang berfungsi sebagai elektrolit. Apabila
dalam elektrolit ditempatkan dua elektroda dan dialiri arus listrik searah maka akan terjadi peristiwa elektrokimia
yaitu gejala dekomposisi elektrolit, dimana
ion positif (kation) bergerak ke katoda dan menerima elektron yang di reduksi dan ion negatif (anion) bergerak
ke anoda dan menyerahkan elektron yang
dioksidasi. Untuk proses elektrokoagulasi digunakan elektroda yang terbuat dari aluminium (Al) karena logam ini
mempunyai sifat sebagai koagulan yang baik. Proses elektrokoagulasi pada prinsipnya
berdasarkan pada proses sel elektrolisis.
Sel elektrolisis merupakan suatu alat yang dapat mengubah energi listrik DC (direct current) untuk
menghasilkan reaksi redoks. Setiap sel elektrolisis
mempunyai dua elektroda, katoda dan anoda. Anoda berfungsi sebagai koagulan dalam proses
koagulasi-flokulasi yang terjadi di dalam sel tersebut.
Sedangkan di katoda terjadi reaksi katodik dengan membentuk gelembung gas hidrogen yang berfungsi
untuk menaikkan flok-flok tersuspensi yang
tidak dapat mengendap di dalam sel. Reaksi yang terjadi pada sel elektroda dengan anoda dan katoda yang digunakan
aluminium adalah:
Proses anodik mengakibatkan terlarutnya logam aluminium menjadi molekul ion Al3+. Ion yang terbentuk ini, di dalam larutan akan mengalami reaksi hidrolisis, menghasilkan padatan Al(OH)3.xH2O yang tidak dapat larut lagi dalam air. Reaksinya :
Yang terbentuk dalam larutan
dapat berfungsi sebagai koagulan untuk proses
koagulasi-flokulasi yang terjadi pada proses selanjutnya di dalam sel elektrokoagulasi. Setelah proses koagulasi-flokulasi
ini selesai maka kontaminan-kontaminan
yang berada dalam air buangan dapat terendapkan dengan
sendirinya.
![]()
Reaksi sel merupakan hasil reaksi dari proses anodik dan katodik yang terjadi secara serentak, laju mol eqivalen yang sama pada masing-masing elektroda. Hasil reaksi sel yang terjadi sangat bervariasi. Dapat berupa bahan-bahan yang terlarut dan ion-ion terlarut seperti Al3+ dan OH- atau berupa bahan padatan yang tidak dapat larut seperti Al2O3, Al(OH)3, dan pembentukan H2. Berlangsungnya proses reaksi elektrodik mengakibatkan terjadinya perubahan komposisi elektrolit terutama kenaikan pH karena adanya pelepasan OH- dan gas H2 pada reaksi katodik. Besar atau kecilnya pengaruh-pengaruh tersebut tergantung pada rapat arus katoda dan jumlah Al3+ yang terhidrolisis. Adanya kenaikan pH karena reaksi katodik pada permukaan katoda akan mengakibatkan logam aluminium terlapisi oleh suatu lapisan hidroksida yang mengendap.
Elektrokoagulasi mampu menyisihkan berbagai jenis polutan dalam air, yaitu partikel tersuspensi, logam-logam berat, produk minyak bumi, warna pada zat pewarna, larutan humus, dan defluorinasi air. Selain itu elektrokoagulasi dapat digunakan untuk pengolahan awal teknologi membran seperti reverse osmosis. Pada elektrokoagulasi, arus listrik mengalir diantara dua elektroda.
Aplikasi
Metode Elektrokoagulasi pada Limbah Cair
Metode elektrokoagulasi
merupakan gabungan dari proses elektrokimia dan
proses koagulasi-flokulasi. Proses ini diduga dapat menjadi pilihan metode pengolahan limbah radioaktif dan limbah
Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) cair
fase alternatif mendampingi metode-metode pengolahan yang lain yang telah dilaksanakan. Kelebihan proses
pengolahan limbah dengan elektrokoagulasi antara
lain flok yang dihasilkan elektrokoagulasi ini sama dengan flok yang dihasilkan koagulasi biasa, lebih cepat
mereduksi kandungan koloid atau partikel yang
paling kecil, hal ini disebabkan pengaplikasian listrik kedalam air akan mempercepat
pergerakan mereka didalam air dengan demikian akan memudahkan proses, gelembung-gelembung gas
yang dihasilkan pada proses elektrokoagulasi
ini dapat membawa polutan ke atas air sehingga dapat dengan mudah dihilangkan, mampu memberikan
efisiensi proses yang cukup tinggi untuk berbagai
kondisi, dikarenakan tidak dipengaruhi temperatur, tidak memerlukan pengaturan pH, serta tidak perlu menggunakan
bahan kimia tambahan (Purwaningsih,
2008)
Kekurangan dari proses pengolahan
limbah dengan metode elektrokoagulasi
adalah tidak dapat digunakan untuk mengolah limbah cair yang mempunyai sifat elektrolit cukup tinggi
dikarenakan akan terjadi hubungan singkat
antar elektroda, besarnya reduksi logam berat dalam limbah cair dipengaruhi oleh besar kecilnya arus
voltase listrik searah pada elektroda, luas sempitnya
bidang kontak elektroda dan jarak antar elektroda, penggunaan listrik yang mungkin mahal, dan batangan anoda
yang mudah mengalami korosi sehingga
harus selalu diganti. Guna mencapai efektifitas dalam pengolahan yang lebih baik, perlu kajian lebih lanjut mengenai
elektrokoagulasi dalam menurunkan
parameter pencemar pada air limbah penyamakan kulit (Purwaningsih, 2008)
Konfigurasi Elektroda pada Reaktor Elektrokoagulasi
Pada bentuk sederhana,
reaktor elektrokoagulasi berupa reaktor elektrokimia
dengan satu anoda dan satu katoda. Ketika dihubungkan dengan sumber listrik maka anoda mengalami
korosi akibat oksidasi sedangkan katoda menjadi
subjek pasif. Namun susunan seperti ini tidak mencukupi untuk pengolahan air
limbah dikarenakan kebutuhan laju pelepasan ion logam yang besar menuntut permukaan elektroda yang
luas. Hal ini dapat dicapai dengan menggunakan
reaktor yang memakai konfigurasi elektroda monopolar dengan rangkaian paralel. Susunan reaktor elektrokoagulasi
dengan konfigurasi monopolar
menggunakan rangkaian paralel dapat dilihat pada Gambar 2.
Selain konfigurasi monopolar, reaktor elektrokoagulasi dapat mempergunakan konfigurasi bipolar (Gambar 2). Pada konfigurasi ini, hanya satu elektroda yang di hubungkan dengan kutub positif (anoda) dan satu elektroda dihubungkan dengan kutub negative (katoda). Rangkaian seperti ini membuat reaktor elektrokoagulasi menjadi lebih sederhana dan mudah dalam perawatannya (Mollah, 2004). Ketika arus listrik dialirkan melalui dua elektroda, maka elektroda yang tidak dialiri akan berubah dari kondisi netral menjadi dua kutub yang berbeda pada masing-masing sisi, yaitu sisi yang menghadap kutub positifmenjadi negatif dan sisi yang menghadap kutub negatif menjadi positif. Elektroda yg memiliki sifat seperti ini disebut “bipolar”.
Menurut Mollah, (2004) untuk menghasilkan efisiensi pengolahan yang maksimum maka dalam mendesain reaktor elektrokoagulasi perlu mempertimbangkan beberapa faktor berikut ini : \
IR-drop elektroda harus diminimalkan
b. Akumulasi gas O2 dan H2 dipermukaan elektroda
harus diminimalkan
c.
Penghalang proses transfer massa melewati
daerah antar elektroda harus diminimalkan.
Sedangkan nilai IR-drop
tergantung pada :
a.
Konduktivitas dari larutan elektrolit
b.
Jarak di antara dua elektroda
c.
Bentuk geometri dari elektroda Untuk megatasi
permasalahan tersebut maka dapat dilakukan beberapa cara, seperti : menggunakan larutan dnegan
konduktivitas yang tinggi, mengurangi jarak
antara elektroda.
Logam
Cr (Kromium)
Logam berat adalah unsur
logam yang mempunyai massa jenis lebih besar
dari 5 g/cm3. Logam berat ialah unsur logam dengan berat molekul tinggi. Dalam kadar rendah logam berat pada
umumnya sudah beracun bagi tumbuhan dan
hewan, termasuk manusia. Salah satu limbah yang berbahaya adalah limbah logam berat kromium (VI) yang biasanya
berasal dari industri pelapisan logam (electroplating),
industri cat atau pigmen dan industri penyamakan kulit (leather tanning). Limbah Cr(VI) menjadi populer
karena sifat karsinogenik yang dimilikinya.
Chromium terdapat di alam dalam 2 bentuk oksida, yaitu oksida Cr(III) dan Cr(VI). Uniknya, hanya
Cr(VI) yang bersifat karsinogenik sedangkan Cr(III)
tidak. Tingkat toksisitas Cr(III) hanya sekitar 1/100 kalinya Cr(VI).
Bahkan dari penelitian lebih
lanjut, ternyata Cr(III) merupakan suatu jenis nutrisi yang dibutuhkan tubuh manusia dengan
kadar sekitar 50-200 μg/hari. Cr(VI) mudah
larut dalam air dan membentuk divalent oxyanion yaitu cromate (CrO42-) dan dichromate (Cr2O72-), sedangkan Chromium
trivalent/Cr(III) mudah diendapkan
atau diabsorbsi oleh senyawa-senyawa organik dan anorganik pada pH netral atau alkalin. 3.4 Parameter
Kualitas Limbah Cair Menurut
Okun dan Ponghis (1975), berbagai parameter kualitas limbah cair yang penting untuk diketahui adalah
bahan padat tersuspensi (suspended solids), bahan padat terlarut (dissolvel
solids), kebutuhan oksigen kimiawi (COD), kebutuhan
oksigen biokimia (BOD), organisme coliform, pH, oksigen terlarut (DO), kebutuhan klor (Chlorine demand), nutrient,
dan logam berat (heavy metals).



Komentar
Posting Komentar