A. Kristal
Kristal didefinisikan sebagai komposisi atom-atom
zat padat yang memiliki susunan
teratur dan periodik dalam pola tiga dimensi. Keteraturan susunan tersebut terjadi karena kondisi
geometris yang harus memenuhi adanya ikatan
atom
yang berarah dan susunan yang rapat. Atom-atom bergabung membentuk padatan (solid), atom-atom
itu mengatur dirinya sendiri dalam pola tatanan tertentu
yang disebut kristal. Susunan khas atom-atom dalam kristal disebut struktur kristal.
Struktur kristal terbentuk dari gabungan sel satuan
yang merupakan sekumpulan
atom yang tersusun secara khusus dan periodik berulang dalam tiga dimensi pada suatu kisi kristal.
Kumpulan atom penyusun kristal sering juga
disebut
dengan basis dan kedudukan atom-atom
di
dalam ruang dinyatakan oleh kisi.
Ditinjau dari strukturnya, zat padat dibagi menjadi tiga yaitu monocrystal (kristal tunggal), polycrystal,
dan amorf.
Pada kristal tunggal (monocrystal), atom atau
penyusunnya mempunyai struktur
tetap karena atom-atom penyusunnya tersusun secara teratur dalam pola tiga dimensi dan pola-pola ini
berulang secara periodik dalam rentang yang
panjang
tak berhingga. Polycrystal adalah kumpulan dari kristal-kristal tunggal yang memiliki ukuran sangat kecil
dan saling menumpuk yang membentuk benda
padat. Amorf memiliki
pola susunan atom-atom atau molekul-molekul yang acak dan tidak teratur secara berulang. Amorf
terbentuk karena proses pendinginan
yang
terlalu cepat sehingga atom-atom tidak dapat dengan tepat menempati lokasi kisinya.Untuk mengetahui susunan
atom kristal dan amorf ditunjukkan pada Gambar
1.
1.
Struktur Kristal
Susunan khas atom-atom dalam kristal disebut
struktur kristal. Struktur
kristal dibangun oleh sel satuan (unit cell). Sel satuan adalah bagian terkecil dari unit struktur
yang dapat menjelaskan struktur suatu
kristal.
Tiga sisi suatu sel satuan disebut sudut-sudut permukaan batas (antar permukaan) seperti yang
diperlihatkan pada Gambar 2. Pengulangan
dari
sel satuan akan mewakili struktur secara keseluruhan. Geometri kristal dalam ruang tiga
dimensi yang merupakan karakteristik
kristal memiliki pola yang berbeda-beda. Suatu kristal yang terdiri dari jutaan atom dapat
dinyatakan dengan ukuran, bentuk, dan
susunan
sel satuan yang berulang
dengan pola pertualangan yang menjadi
ciri
khas dari suatu kristal.
Sumbu-sumbu a, b, dan c adalah sumbu-sumbu yang
dikaitkan dengan
parameter kisi kristal. Sedangkan α, β,
dan γ merupakan
sudut antar sumbu-sumbu referensi
kristal. Berdasarkan sumbu-sumbu a, b, dan
c
(kisi bidang) dan sudut α, β, dan γ (kisi ruang), kristal dikelompokkan menjadi 7 sistem kristal (hubungan
sudut satu dengan sudut yang lain)
dengan
14 kisi bravais (perbandingan antara sumbu-sumbu kristal). Seperti pada Tabel 1.
Pada Tabel 1, sel primitif diberi tanda huruf P (primitif);
sel dengan simpul kisi yang
terletak pada pusat dua bidang sisi yang paralel diberi tanda C (center);
sel dengan simpul kisi dipusat setiap
bidang kisi diberi tanda F (face); sel dengan simpul kisi dipusat bagian dalam
sel unit ditandai dengan huruf I (inti); huruf R menunjukkan pada sel primitif
rhombohedral.
2.
Parameter Kisi hexagonal
Arah berkas yang dipantulkan semata-mata ditentukan oleh geometri kisi, yang bergantung pada orientasi dan jarak bidang kristal. Apabila kristal memiliki simetri hexagonal (a = b = 90o, c = 120o) dengan ukuran parameter kisi a, maka sudut difraksi berkas dari bidang kristal (hkl) dapat dihitung dengan mudah dari hubungan jarak antar interplanar. Di dalam parameter kisi dikenal Persamaan Bragg, yaitu:
Struktur
kristal Cd(Se0,2Te0,8)
memiliki struktur kristal hexagonal. Dengan demikian Jarak interplanar untuk struktur
kristal hexagonal adalah
Dengan
mensubtitusikan Persamaan (6) ke dalam Persamaan (5), didapatkan:
3.
Indek Miller
Suatu kristal mempunyai bidang-bidang atom yang
mempengaruhi sifat
dan perilaku bahan. Kelompok bidang tergantung pada sistem kristal. Dua bidang atau lebih dapat tergolong
dalam kelompok bidang yang sama.
Indeks Miller adalah harga kebalikan dari parameter numerik yang dinyatakan dengan simbol (hkl).
Pada Gambar 4, perpotongan bidang
dengan
sumbu dinyatakan dengan 2a, 2b, dan 3c sehingga parameter numeriknya adalah 2, 2, 3 dan
indeks Miller dari bidang bawah adalah:
(hkl) = h : k : l = ½ : ½ : 1/3.
(hkl)
= (1/2 ½ 1/3 ) atau (3 3 2)
5.
Ketidaksempurnaan pada kristal
Berdasarkan struktur kristal, atom dalam setiap
material tersusun secara teratur,
tetapi terdapat berbagai ketidaksempurnaan atau sering disebut dengan cacat kristal. Cacat kristal ini
terjadi pada suatu bahan padat yang dapat
mempengaruhi
sifat fisis tertentu seperti mekanik atau sifat listrik. Cacat yang terdapat pada kristal memiliki
bermacam-macam bentuk di antaranya:
a)
Cacat titik
Cacat titik terjadi karena adanya penyimpangan
susunan periodik kisi
terbatas sekitar beberapa atom sehingga terjadi kekosongan atom (vacancy), sispan (interstisi),
dan perpindahan kedudukan atom tak murni
disela
kisi (anti site). Penyimpangan susunan periodik kisi disekitar atom merupakan cacat dalam konsentrasi
yang besar dalam kesetimbangan termodinamika
seiring meningkatnya temperatur secara eksponensial. Kekosongan adalah kehilangan sebuah
atom dalam kristal yang disebabkan
penumpukan yang salah ketika pada proses kristalisasi, yaitu pada saat temperatur tinggi. Pada
keadaan suhu tinggi, energi thermal
akan
meningkat letak kisinya ke lokasi atomik terdekat. Sisipan terjadi jika terdapat atom tambahan dalam
struktur kristal, sedangkan untuk anti site terjadi jika pemindahan
ion dari kisi ke tempat sisipan.
b)
Cacat garis Cacat
garis (planar)
Muncul
karena adanya diskontinuitas struktural
sepanjang lintasan kristal (dislokasi), atau cacat akibat salah susun struktur kristal. Terdapat
dua bentuk dasar dislokasi yaitu: dislokasi tepi dan
dislokasi sekrup. Pembentukan dislokasi tepi akibat adanya gesekan antara kristal dengan arah slip
secara sejajar. Sedangkan dislokasi
sekrup terjadi karena pergeseran atom dalam kristal secara spiral.
c)
Cacat planar
Dalam cacat planar terdapat batas butir,
yaitu batas sudut kecil secara
memadai dapat digambarkan sebagai dinding vertikal terdiri dari dislokasi. Rotasi suatu kristal
relatif terhadap kristal lainnya seperti batas puntir,
dihasilkan oleh jaringan silang yang terdiri dari dua sel dislokasi ulir. Batas puntir ini adalah batas
sederhana yang memisahkan dua kristal
yang
memiliki perbaedaan orientasi kecil, sedangkan batas butir memisahkan kristal yang mempunyai perbedaan
sudut orientasi besar
d)
Cacat volume
Cacat volume terjadi akibat pemanasan, iradiasi,
deformasi sehingga
terbentuk void, gelembung gas dan rongga dalam kristal dimana sebagian berasal dari energi
permukaan (1 sampai 3 J/m3). Aliran plastis deformasi yang terjadi secara
berkesinambungan mengakibatkan jumlah
dislokasi
menjadi sangat besar dan saling berkaitan sehingga menghambat gerak masing-masing dan
mengakibatkan plastis bahan semakin
bertambah. Gejal ini disebut pengerasan, untuk mengembalikan kelentukan bahan yang mengalami
pengerasan dilakukan pemanasan kristal
atau annealing. Kristal yang mengalami pengerasan mengandung 1016
m
dislokasi per meter kubik volumenya, hal ini dapat direduksi dengan annealing menjadi
sekitar 106
m.








Komentar
Posting Komentar